Kamis, 06 Juni 2013

Isra Mi’raj sebagai pengingat dan penyemangat kita

 أسلموالكم ورحمتيولهي وبراكاته 

Isra Mi’raj merupakan peristiwa spiritual besar yang dialami oleh Nabi Muhamad SAW saat mengalami berbagai cobaan saat berdakwah di Mekah pada waktu itu. Cobaan yang sangat bertubi – tubi datangnya, dari mulai caci maik kaum musyrikin di Mekah, banyak pengikutnya disiksa, keluarganya pun diboikot hingga kematian Abu Thalib, pamannya yang selalu menjaga beliau dan kematian Siti Khadijah yang merupakan istri Nabi Muhammad SAW yang selalu menjadi sandaran beliau. Kesetiaan, sikap lemah lembut, hati yang bersih dan kekuatan iman yang dimilikinya, menjadikannya obat pelipur lara yang  senantiasa menghibur beliau saat mendapatkan kesedihan, tekanan dan rasa takut.


Kematian dua orang yang sangat dikasihi ini, membuat Muhammad mengalami kesedihan yang luar biasa. Beliau merasakan inilah cobaan yang terberat dalam hidup beliau. Semangat nabi Muhammad SAW yang tak pernah surut, seolah – olah runtuh bersama kepergian keduanya. Nabi Muhammad SAW benar – benar merasa sendiri, tak punya siapa – siapa lagi. Tahun kepergian abu Thalib dan Khadijah benar – benar merupakan tahun kelabu bagi beliau. Dan semenjak kepergian orang – orang yang dikasihinya, tekanan dari kaum quraisy semakin besar, hingga mereka lebih berani meyiksa dan menangkap beberapa pengikutnya.
Pada masa – masa sulit inilah Allah SWT berkehendak memperjalankan beliau dalam sebuah wisata spiritual yang sangat agung yang bernama  Isra Mi’raj. Pada malam Isra Mi’raj ini, beliau sedang berada di rumah saudara sepupunya, Ummi hani’. Dikisahkan bahwa dalam perjalanan Isra Mi’raj ini Muhammad SAW naik ke Sidratul Muntaha, meluncur dengan kecepatan superkilat yang sulit untuk dilukiskan.

Dikisahkan oleh para ulama dan  ahli sejarah, bahwa dalam perjalanan dari Baitul Maqdis menuju lagit ketujuh, Muhammad SAW bertemu dengan para nabi dan rasul yang diutus oleh Allah SWT sebelum beliau. Di langit lapis pertama, beliau bertemu dengan Nabi Adam. Dikisahkan di langit pertama ini beliau juga melihat berbagai peristiwa yang merupakan perlambang bagi umatnya. Beliau juga melihat orang – orang yang moncong mulutnya seperti unta, dengan menggenggam bola – bola api ditangannya. Lalu bola – bola api mereka lemparkan ke mulut sendiri. Malaikat Jibril kemudian menjelaskan bahwa mereka adalah orang – orang yang suka memakan harta anak yatim secara tidak sah. Muhammad SAW juga melihat orang – orang yang dihadapannya ada daging segar serta daging buruk dan busuk, namun ternyata mereka justru lebih memakan daging yang buruk dan busuk. Malaikat Jibril menjelaskan lagi, bahwa mereka itulah orang – orang yang suka berzina . Muhammad SAW juga melihat perempuan – perempuan yang digantung buah dadanya, oleh Malaikat Jibril dijelaskan bahwa mereka itulah para perempuan yang selalu memasukkan laki – laki lain yang bukan keluarga mereka. Masih banyak lagi kejadian aneh yang diperlihatkan kepada Nabi Muhammad SAW sewaktu berada di langit lapis pertama ini.

Dari langit pertama kemudian Nabi Muhammad SAW meneruskan perjalanannya menuju ke langit ke tujuh. Di masing – masing lapis langit berikutnya, beliau juga bertemu dengan nabi dan rasul sebelum beliau. Di langit kedua bertemu dengan Nabi Yahya dan Nabi Isa. Di langit lapis ketiga bertemu dengan Nabi Yusuf. Di langit lapis keempat bertemu dengan Nabi Idris. Di langit lapis kelima bertemu dengan Nabi Harun. Di langit lapis keenam bertemu dengan Nabi Musa, dan di langit ketujuh beliau bertemu dengan Nabi Ibrahim. Di langit ke tujuh, Nabi Muhammad dapat melihat malaikat maut, izrail. Dari lagit ketujuh, Nabi Muhammad SAW kemudian seorang diri membumbung ke Sidratul Muntaha yang terletak di sebelah kanan ‘Arsy. Nabi Muhammad SAW kemudian merasa seolah dibawa ke tempat mahatinggi. Beliau terpesona sekali melihat keindahan alam itu. Di tempat itulah beliau merasa seolah – olah bumi dan langit menjadi satu. Keduanya tampak hanya seperti sebutir biji di tengah – tengah ladang yang membentang luas. Begitulah seharusnya manusia menyadari posisinya dihadapan Allah SWT, Raja semesta alam. Di tempat ini pula, Nabi Muhammad SAW dapat bertemu dan melihat secara langsung Allah dengan persepsi beliau. Semuanya tidak bisa dilukiskan dengan kata dan diluar jangkauan otak manusia. Dalam pertemuan inilah, Allah SWT kemudian mewajibkan Muhammad SAW dan umat islam untuk menjalankan sholat 50 kali sehari semalam.

Begitu Muhammad SAW turun dari Sidratul Muntaha dan melewati Nabi Musa, nabi bani israel ini bertanya kepada Nabi Muhammad SAW, “Apa yang diperintahkan Allah kepadamu ?”. Muhammad SAW menjawab,” Aku diperintah 50 kali shalat tiap hari.” Musa menyarankan agar beliau kembali menghadap Allah SWT dan memohon keringan kepada-NYA, karena umat islam pasti keberatan dengan kewajiban shalat 50 kali sehari semalam itu.

Akhirnya Muhammad SAW pun kembali ke Allah SWT dan meminta keringanan, sehingga dikurangi 40 kali sehari semalam. Oleh Nabi Musa, 40 kali sehari semalam itu juga masih dianggap sangat berat bagi umat islam, sehingga Nabi Musa menyarankan agar beliau kembali kepada Allah SWT.Akhirnya jumlah shalatpun terus dikurangi oleh Allah SWT hingga menjadi 5 kali sehari semalam. Dalam peristiwa bolak – baliknya Nabi Muhammad SAW ke hadirat Allah SWT untuk meminta keringanan ini, Muhammad SAW telah membuang jauh – jauh ego dan rasa malu beliau, demi kebaikan umat islam. Beliau tidak memperdulikan lagi bagaimana penilaian Allah SWT terhadap diri beliau, karena yang ada di dalam benak beliau adalah bagaimana umatnya nanti tidak merasa terlalu berat atas kewajiban shalat yang ditetapkan oleh Allah SWT. Semua itu wujuud kasih sayang beliau kepada umat manusia.

Setelah kembali dari Sidratul Muntaha, Muhammad SAW kemudian diajak jalan – jalan oleh Malikat jibril mengujungi surga dan neraka. Kenikmatan surga yang tiada terlukiskan dengan kata, membuat Muhammad SAW tertegun sesaat untuk kemudian berdoa agar umatnya dapat memasukinya. Sebaliknya, ketika melihat kobaran api neraka yang demikian mengerika, Nabi Muhammad SAW hanya bisa berdoa semoga umatnya kelak bisa selamat darinya dan tidak akan dibakar di dalamnya untuk selama – lamanya. Setelah itu Nabi Muhammad SAW dibawa Malaikay Jibril turun lagi ke bumi, tepatnya di Baitul Maqdis. Dari sinilah kemudian beliau kembali ke Mekah dengan mengendarai Buraq dan sampai di Mekah sebelum malam berakhir.

Perjalanan Isra Mi’raj benar – benar perjalanan yang indah dan sangat mengesankan bagi beliau. Ia juga merupakan salah satu mukjizat terbesar beliau yang akan selalu disebut – sebut orang sepanjang zaman. Isra Mi’raj benar – benar meniupkan semangat baru bagi Nabi Muhammad SAW untuk tetap tegar dalam menyampaikan dakwah Islam. Pertemuan langsung beliau dengan Allah, dengan seluruh pengalaman rohani yang dilihatnya selama perjalanan Isra Mi’raj, telah menjadikan Nabi Muhammad SAW  melupakan segala kepedihan yang dialaminya dalam dakwah, bahkan juga kepedihan akibat ditinggal oleh Abu Thalib dan Khadijah. Yang ada di dalam hati beliau kini adalah semangat membara untuk terus menyampaikan Islam kepada seluruh umat manusia.

Semoga kita semua dapat mengambil hikmah dari cuplikan isi buku dalam catatan ini dan semoga kita selalu semangat untuk selalu menjaga dan menunaikan apa yang menjadi sebuah kewajiban kita sebagi hamba-NYA dan semangat untuk senantiasa selalu saling menasehati dalam kebaikan.


”Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran” (QS. Al ‘Ashr).

Surabaya, 6 Juni 2013
20:39

referensi :

1. Buku "Muhamad - jejak-jejak keagungan dan teladan abadi sang nabi akhir zaman" karya Saiful Hadi El-Sutha
2. gambar ilustrasi : sini

0 komentar: